Hama Penggerek Batang Padi: Sundep, Beluk, dan Cara Mengendalikannya
Kalau wereng cokelat menyerang dari luar batang, penggerek batang menyerang dari dalam. Larva ngengat kecil ini masuk ke dalam batang padi muda, memakan jaringan di dalamnya dari dalam ke luar, dan baru gejalanya terlihat saat kerusakan sudah terjadi secara masif. Inilah yang membuat penggerek batang menjadi salah satu hama padi paling berbahaya di Indonesia setelah wereng.
Jenis Penggerek Batang di Indonesia
Ada empat spesies penggerek batang yang umum ditemukan di Indonesia, tapi dua yang paling sering menyebabkan kerugian ekonomi signifikan adalah penggerek batang putih (Scirpophaga innotata) dan penggerek batang kuning (Scirpophaga incertulas). Kedua spesies ini punya karakteristik yang mirip tapi dengan preferensi fase pertumbuhan yang sedikit berbeda.
Sundep vs Beluk: Dua Gejala dari Satu Hama

Sundep adalah gejala yang terjadi saat larva penggerek menyerang tanaman di fase vegetatif. Larva masuk ke titik tumbuh batang utama dan memotong jaringan di dalamnya. Hasilnya: pucuk tanaman mati dan mengering tapi daun-daun di bawahnya masih hijau. Pucuk yang mati ini mudah dicabut dari rumpunnya karena batangnya sudah dipotong larva dari dalam. Petani sering menyebutnya “mati pucuk”.
Beluk (atau white ear) terjadi saat serangan menyerang fase reproduktif, setelah malai terbentuk. Larva memotong jaringan di leher malai, menyebabkan malai tidak mendapat pasokan nutrisi dan mengering seluruhnya. Malai yang terkena beluk berwarna putih atau abu-abu dan berdiri tegak – berbeda dari malai yang berisi yang menunduk karena berat biji. Ini gejala yang paling merugikan karena langsung menghilangkan potensi hasil panen.
Siklus Hidup dan Cara Masuk ke Tanaman
Ngengat betina meletakkan kelompok telur di permukaan daun padi, ditutupi rambut-rambut halus kecokelatan yang khas. Satu kelompok telur berisi 50-150 butir. Larva yang baru menetas awalnya berkeliaran di permukaan daun sebelum masuk ke dalam batang melalui celah kecil.
Karena larva ada di dalam batang, insektisida kontak tidak bisa menjangkau mereka. Pengendalian kimia harus dilakukan saat larva masih di permukaan daun (baru menetas) atau menggunakan insektisida sistemik yang diserap tanaman dan meracuni larva saat mereka memakan jaringan.
Pengendalian yang Efektif

Monitoring kelompok telur: Ambang tindakan adalah 1 kelompok telur per rumpun di fase vegetatif. Hitung kelompok telur saat monitoring rutin – kumpulan rambut kecokelatan di permukaan daun adalah tanda yang cukup mudah dilihat.
Parasitoid telur: Trichogramma sp. adalah parasitoid telur penggerek batang yang sangat efektif. Di sawah dengan ekosistem yang sehat, parasitisasi bisa mencapai 60-80% yang artinya sebagian besar telur tidak akan pernah menetas menjadi larva.
Insektisida sistemik: Karbofuran granular (yang dibenamkan di tanah) atau insektisida sistemik semprot seperti fipronil efektif untuk pengendalian larva yang sudah masuk ke batang. Aplikasi terbaik adalah saat fase vegetatif aktif sebelum malai terbentuk.
Pantau Hama Wereng di Sawahmu dengan AgriAgent
Alarm hama AI AgriAgent memberi notifikasi dini sebelum wereng berkembang parah – langsung ke HP-mu.
Selain hama ini, wereng cokelat adalah ancaman utama yang perlu diwaspadai petani padi Indonesia.